MAKALAH SEJARAH SASTRA

MAKALAH PERIODISASI SEJARAH SASTRA MENURUT PARA AHLI

KATA PENGANTAR
             Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
        Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas  berkah rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan waktu yang telah ditentukan .
Kami berharap  semoga Makalah yang berjudul “Periodisasi Sastra” dapat bermanfaat bagi para pembaca makalah ini dan dapat mengetahui dan memahami masa periodisasi sastra.
Makalah tentang periodisasi sastra kami susun untuk turut menambah buku bacaan perkuliahan mahasiswa jurusan bahasa dan sastra indonesia. Makalah ini khusus membicarakan tentang periodisasi sastra menurut Nugroho, HB Jassin, Buyung Saleh dan Ajip Rosidi.
       Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak terdapat kekurangan, khususnya menyangkut masalah pembahasan periodisasi sastra yang kesemuanya itu disebabkan oleh minimnya pengetahuan kami, maka dari itu kami butuhkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
      Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Akhir kata kami ucapkan .
         Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh .
Bangko,  februari 2014
                                                                                                    Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang
        Sastra Indonesia adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra yang berda di Indonesia. Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang di buat di wilayah kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk pada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan bahasa Melayu (dimana Bahasa Indonesia adalah turunannya).
       Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan periode yang lain. Dalam periodisasi sastra Indonesia di bagi menjadi dua bagian besar, yaitu lisan dan tulisan.  Secara urutan waktu terbagi atas angkatan Pujangga Lama, angakatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkatan 1945, angkatan 1950-1960-an, angkatan 1966-1970-an, angkatan 1980-1990-an, angkatan Reformasi, angkatan 2000-an.
      Adapun pembagian periodisasi sastra menurut para ahli yaitu Buyung Saleh, HB. Jassin, Nugroho Notosusanto, dan Ajip Rosidi.Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sejarah sastra merupakan cabang ilmu sastra yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan sastra suatu bangsa, misalnya sejarah sastra Indonesia, sejarah sastra Jawa dan sejarah sastra Inggris.
Dalam jangka waktu yang relatif panjang tercatat munculnya secara besar jumlah persoalan sastra yang erat kaitannya dengan perubahan zaman dan gejolak sosial politik yang secara teoritis dipercaya besar pengaruhnya terhadap warna kehidupan sastra. Masalah itu biasanya terkait dengan teori periodisasi atau pembabakan waktu sejarah sastra.
1.2.     Rumusan Masalah
•    Bagaimanakah periodisasi sejarah sastra Indonesia dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam periodisasi sejarah sastra Indonesia?
•    Mengapa terjadi perbedaan penamaan periodisasi sastra antar tokoh?
1.3.     Tujuan Penulisan
•    Untuk mendiskripsikan periodisasi sejarah sastra dan untuk mengetahui tokoh-tokoh yang terlibat dalam periodisasi sejarah sastra Indonesia
•    Untuk mengetahui terjadinya perbedaan penamaan periodisasi sastra antar tokoh
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.  Periodisasi Sejarah Sastra
        Di Indonesia dan Tokoh-Tokoh Yang  Terlibat di Dalamnya
    Periodisasi adalah pembagian kronologi perjalanan sastra atas masanya, biasanya berupa dekade- dekade.
        Secara umum periode perkembangan sastra Indonesia terbagi atas sastra Indonesia lama (klasik) adalah karya sastra yang berkembang sebelum ada pengaruh dari kebudayaan luar, khususnya kebudayaan barat. Sastra Indonesia lama diperkirakan lahir pada tahun 1500 sampai abad ke-19. Adapaun sastra Indonesia modern karya sastra yang berkembang setelah ada pengaruh kebudayaan Barat pada awal abad ke-20.
      Beberapa kritikus satra telah mencoba membagi periodisasi (pembabakan) sastra Indonesia, di antaranya:
1.    Perodisasi sastra menurut Buyung Saleh
Periodisasi sastra menurut Buyung Saleh adalah jangka yang panjang atau pendek dalam perkembangan sastra yang menunjukka ciri khas karya sastra. Periodisasi sastra Indonesia pada  mumnya terbagi menjadi:
1.    Kesusastraan Lama
Karya sastra pada kesusastraan lama masih berkisar pada cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut (lisan). Hasil karya sastranya berupa dongeng, mantra, dan hikayat. Cerita pada masa ini bersifat istana sentries (mengisahkan kehidupan raja-raja).
2.    Kesusastraan Peralihan
Kesusastraan peralihan dipelopori oleh Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Karya masa peralihan telah meninggalkan kebiasaan lama yang bersifat istana sentries menjadi karya yang lebih realistis. Hasil karya sastra yang terkenal, yaitu Hikayat Abdullah.
3.    Kesusastraan Baru
•    Angkatan Balai Pustaka
        Angkatan Balai Pustaka berdiri pada tahun 1920 oleh penerbit Balai Pustaka. Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Karya sastra dan penulis angkatan ini, yaitu Azab dan Sengsara karya Merari Seregar (1920), Siti Nurbaya karya Marah Rusli (1920), dan Salah Asuhan karya Abdul Muis (1928).
•    Angkatan Pujangga Baru
        Pujangga Baru adalah sebuah nama majalah yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane. Sastra Pujangga Baru cenderung kearah nasionalis, tetapi termasuk juga sastra idealistik dan romantik. Karya sastra dan penulis angkatan ini, yaitu Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana (1936), Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka (1938), dan Belenggu karya Armijn Pane (1940).
•    Angkatan 1945
          Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik – idealistik. Karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan ’45 memiliki konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan ’45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Karya Sastra angkatan ini, yaitu puisi berjudul Kerikil Tajam karya Chairil Anwar (1949), Atheis karya Achdiat Karta Mihardja (1949), dan Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Menuju Roma karya Idrus (1948).
•    Angkatan 1966
         Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis. Menurut HB. Jassin karya sastra angkatan ini mempunyai konsepsi Pancasila, menggemakan protes sosial, politik, dan membawa kesadaran nurani manusia yang bertahun-tahun mengalami kezaliman dan perkosaan terhadap kebenaran dan rasa keadilan serta kesadaran akan moral dan agama. Karya sastra angkatan ini, yaitu puisi berjudul Malu Calzoum Bachri, dan Dukamu Abadi karya Sapardi Djoko Damono.
2.    Periodisasi sastra menurut H.B.Jassin, 1953 (via notosusanto,1963:199-200)
A.     Sastra Melayu Lama
       Periodisasi sastra adalah penggolongan sastra berdasarkan pembabakan waktu dari awal kemunculan sampai dengan perkembangannya. Selain berdasarkan tahun kemunculan, juga berdasarkan ciri-ciri sastra yang dikaitkan dengan situasi sosial, serta pandangan dan pemikiran pengarang terhadap masalah yang dijadikan objek karya kreatifnya. Pada masa itu sastrad ipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Budha dan kebudayaan Islam di Indonesia.
      Ciri-ciri sastra melayu lama adalah masih menggunakan bahasa Melayu, cerita seputar istana sentris dan hal-hal tahayul, penggarang anonin, dan masih sangat terikat dengan aturan-aturan dan adat-istiadat daerah setempat.
Karya sastra yang muncul pada masa ini misalnya adalah Hikayat Hang Tuah, Hikayat Mahabarata, Hikayat Seribu Satu Malam, Cerita-cerita Panji, Tajussalatin, Bustanus Salatin.
B.     Sastra Indonesia Modern
Karya sastra Indonesia modern ini muncul pada awal abad ke-20. Dipelopori oleh gerakan nasionalis dari pejuang bangsa Indonesia. Sastra Indonesia modern ini dibagi lagi menjadi 4, yaitu:
•    Angkatan Balai Pustaka
Angkatan balai pustaka merupakan titik tolak kesusastraan di Indonesia. Dilatarbelakangi oleh munculnya penerbit Balai Pustaka pada tahun 1917 yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Ciri-cirinya adalah:
1)    Menggunakan bahasa Indonesia tapi masih terpengaruh bahasa          Melayu.
2)    Cerita mengusung adat-istiadat dan kawin paksa
3)    Dipengaruhi tradisi lokal dan daerah setempat Seputar  romantisme
4)    Unsur nasionalisme belum jelas
5)    Bersifat didaktis (harus memberikan pendidikan budi pekerti)
6)    Pertentangan paham antara kaum tua dan kaum muda
7)    Bahasa percakapan dimasukkan di antara baca tulisan. Puisinya terdiri atas:
Syair dan pantun
      Angkatan balai pustaka terkenal dengan sensornya yang ketat sehingga banyak karya sastra yang tidak diterbitkan bahkan ditarik dari pasar, seperti Salah Asuhan dan Belenggu. Contoh karya sastra pada zaman ini adalah Azab dan Sengsara (Merari Siregar), Sitti Nurbaya (Marah Rusli), Muda Teruna (M. Kasim), Salah Pilih (Nur St. Iskandar), Dua Sejoli (M. Jassin, dkk.)
•    Angkatan Pujangga Baru (33)
       Munculnya angkatan pujangga baru dilatarbelakangi oleh majalah sastra Pujangga Baru (Juli 1933), selain itu juga sebagai reaksi dari ketatnya sensor di balai pustaka. Angkatan pujangga baru menginginkan nasionalisme lebih dikobarkan agar bisa menjadi penyemangat rakyat dalam perjuangan kemerdekaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi “bapak” sastra modern Indonesia.Ciri-ciri angkatan pujangga baru adalah:
a)    Masalah yang diangkat ialah kehidupan modern
b)    Nafas nasionalisme sudah jelas
c)    Bahasa yang digunakan adalah “kata-kata pujangga” atau kata-kata indah dan cenderung romantic
d)    Kesamaan dengan angkatan 20 tendesius, didaktis
e)    Angkatan ini telah bebas menentukan nasibnya sendiri
Tokoh-tokoh terkenal pada masa pujangga baru seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, Armyn Pane, Sanusi Pane, Muhammad Yamin, J.E. Tatengkeng, Rustam Effendi, dan Hamka.
•    Angkatan ‘45
Angkatan ’45 lahir dalam suasana lingkungan yang sangat prihatin dan serba keras, yaitu lingkungan fasisme Jepang dan dilanjutkan peperangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain itu juga dilatarbelakangi oleh munculnya respons terhadap Angkatan Pujangga Baru yang cenderung romantik.
Ciri-ciri karya sastra angkatan ’45 adalah:
a)    Terbuka
b)    Pengaruh unsur sastra asing lebih luas
c)    Corak isi lebih realis, naturalis
d)    Individualisme  sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan      kritis
Penghematan kata dalam karya
e)   Ekspresif
f)  Sinisme dan sarkasme
a.    Karangan prosa berkurang, puisi berkembang
Sastrawan yang terkenal pada masa ini adalah Chairil Anwar, Idrus, Achdiat Kartamihardja, dan Aoh Kartahadimaja. Karya sastra yang lahir pada angkatan ’45 seperti Deru Campur Debu, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, Atheis, Zahra, dll.
•    Angkatan ‘66
Lahirnya Angkatan ’66 adalah aksi yang dilancarkan para pemuda dan seniman pada tahun 1966 yang memprotes kesewenang-wenangan penguasa, dan terbitnya majalah sastra Horison.
Ciri-ciri sastra pada masa Angkatan ’66 adalah:
a)    Bercorak perjuangan anti tirani proses politik, anti kezaliman dan kebatilan
b)    Bercorak membela keadilan
c)    Mencintai nusa, bangsa, negara dan persatuan
d)    Berontak
e)    Pembelaan terhadap Pancasila
f)    Protes sosial dan politik
Contoh karya sastra pada Angkatan ’66 adalah Pabrik, Telegram, Stasiun, Ziarah, Kering, dll.
Banyak peranan periodisasi sastra di Indonesia, seperti sebagai tolakan berkembangnya sastra di Indonesia. Sastra di zaman perjuangan juga digunakan sebagai media pembangkit nasionalisme dan pengobar semangat.
3.    Periodisasi sastra menurut Nugroho Notosusanto
      Nugroho Notosusanto tidak memberikan ciri-ciri intrinsik karya sastra Indonesia yang ada dalam tiap-tiap periode, ia rupanya mengikuti H.B. Jassin dan Boejoeng Saleh. Hanya mengenai angkatan 50 dikatakan olehnya (1963: 208) bahwa para sastrawan periode 50  jangkauan orientasinya meliputi seluruh dunia, tak hanya Belanda dan Eropa Barat. Penyair dan penulis cerkan berguru kepada sastrawan Indonesia sendiri, mereka berguru puisi pada Chairil Anwar dan Sitor Situmorang, pengarang prosa berguru kepada Pramoedya Ananta oer atau Idrus. Unsur-unsur persajakan dari bahasa-bahsa daerah semakin digali hingga makin kayalah bahasa Indonesia. Tradisi Indonesia menjadi titik tolak. Sifat nasional periode ’50 juga dicerminkan oleh tersebarnya pusat-pusat kegiatan ke seluruh wilayah tanah air.
1. Sastra Melayu Lama
2. Sastra Indonesia Modern
Sastra  indonesia  modern terbagi 3 ankatan
1.    Angkatan 20
2.    Angkatan 33atau punjaga baru
Karakteristik masing- masing angkatan : angkatan 20, prosesnya menggambarkan:
1.    Pertentangan paham antara kaum tua dan kaum muda
2.    Soal kawin paksa, pra maduan dan lain-lain
3.    Kebangsaan belu maju kedepan, masih kedaerahan
Kelainan dengan sastra melayu lama
1.    bahasa percakapan dimasukan diantrany a baca tulis
2.    ada terdapat analisis jiwa
3.    cerita beramain pada jaman sekarang
4.    kebangsawanan pikiran kontra kebangsawanan darah
5.    pandangan hidup baru kontra moral  lama puisinya sebagian besar  terdiri atas  syair dan pantun
6.    bersifat didaktis
Angkatan 33
1.    angkatan ini telah bebas menentuka nasibnya sediri
2.    persoalannya ialah: mengahadapi masyarakat kota dengan masal-masalah kota
3.    juga: bagaimana menggunakan kebebasan dan bagaimana  fungsi kebebasan tehadap masyarakat
4.    pentingnya adalah: persoalan kebangunan kebangsaan , jadi hasil karaya mereka bercorak kebangsaan
5.    dalam segala keragamannya yang menjadi pengikat mereka adalah cirri-ciri nasional
6.    kesamaan dengan angkatan 20 tendensius, didaksis
2.1. Masa Kebangkitan
2.1.1. Periode ‘20
2.1.2. Periode ‘33
2.1.3. Periode ’42
2.2. Masa Perkembangan
2.2.1. Periode ‘45
2.2.2. Periode ‘50
4.    Periodisasi  Sastra Ajip Rosidi  (1969:13)
I.    Masa  kelahiran  dan masa penjadian (kl. 1900-1945)
1.    Periode awal hingga 1933
2.    Periode 1933-1942
3.     Periode  1942-1945
II.    Masa perkembangannya (1945 hingga sekarang)
1.    Periode 1945-1953
2.    Periode 1953-1961
3.    Periode 1961 sampai sekarang (1969)
Ajip Rosidi juga tidak menguraikan ciri-ciri intrinsik karya sastra Indonesia yang ada dalam tiap-tiap periodenya.
     Perlu ditegaskan bahwa sesungguhnya periode-periode sastra ittu tidak tersusun mutlak seperti balok-balok batu yang dideretkan, yaitu periode satu digantikan dengan periode yang lain dengan batas tegas, melainkan periode-periode ini saling bertumpang-tindih. Sebelum sebuah periode atau angkatan lenyap sama sekali, sudah timbul benih-benih angkatan baru. Hal ini disebabkan oleh situasi dan kondisi tertentu  yang istimewa dan biasanya didukung oleh generasi sastra baru yang mulai menampakkan diri. Sebelum angakatan baru tersebut terintegrasi, maka angkatan lama masih mempunyai kekuatan, bahkan juga sesudah angkatan baru terintegrasi. Dengan demikian, angkatan lama dan angkatan yang baru lahir itu hidup berdampingan. Namun masing-masing menunjukkan ciri-ciri sastra yang berbeda !
Berdasarkan ketidakmutlakan itu, maka gambaran sesungguhnya periode-periode sejarah sastra Indonesia bertumpang tindih sebagai berikut:
1.    Periode Balai Pustaka: 1920-1940;
2.    Periode Pujangga Baru: 1930-1945;
3.    Periode Angkatan 45: 1940-1955;
4.    Periode Angkatan 1950-1970; dan
5.    Periode Angkatan 70: 1965-sekarang (1984)
    Dalam periodesasi itu kelihatan adanya tahun-tahun yang bulat. Hal ini untuk mempermudah pengingatandan pemahaman dalam studi (sastra). Lagi pula lahirnya, tersebarnya dan terintegrasinya suatu periode sastra atau angkatan sastra, pada umumnya kurang jelas batas-batas waktunya. Jadi, tahun-tahun bulat itu sebagai ancar-ancar timbulnya, tersebarnya, terintegrasinya dan lenyapnya suatu periode atau angkatan sastra
      Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu
Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan periode yang lain, misalnya pada angkatan ‘45
•    Terbuka
•    Pengaruh unsur sastra asing lebih luas
•    Corak isi lebih realis, naturalis
•    Individualisme sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan kritis
•    Penghematan kata dalam karya
•    Ekspresif
•    Sinisme dan sarkasme
•    Karangan prosa berkurang, puisi berkembang
2.2.      Masalah Periodisasi Sastra
       Masalah periodisasi sastra memang merupakan masalah yang banyak menarik perhatian orang. Bukan hanya penelah sastra saja yang berbicara tentang itu, melainkan juga para sastrawan ikut melibatkan diri. Sebenarnya, masalah periodisasi itu tidak begitu penting bagi para sastrawan. Bahkan ada beberapa pengarang yang tidak mau dirinya dimasukkan kedalam salah satu angkatan karean mungkin dipandang akan membatasi dan mempersempit kebebasan daya kreatifitasnya
    Walaupun demikian  periodisasi sejarah sastra Indonesia moderen itu perlu  terutama bagi penelaah sastara dan bagi dunia pendidikan dan pengajaran
    Dengan periodisasi itu kita akan dapat dengan mudah mengetahui tahap-tahap perkembangan sastra Indonesia dengan corak dan aliran yang munkin ada pada tiap tahap perkembangan itu
1.    Periodisasi Buyung Saleh
2.    Periodisasi H.B. Jassin
1.    Sebelum tahun 20-an
2.    Antara tahun 20-an hingga tahun ‘33
3.    Tahun 1933 hingga mei 1942
4.    Mei 1942 hingga sekarang
I.  Sastra Melayu Lama
II. Sastra Indonesia Moderen
1.    Angkatan 20
2.    Angkatan 33 atau Punjangga Baru
3.    angkatan 45 mulai sejak 1942
4.    angkatan 66 mulai kira-kira tahun 1955
3. periodisasi Nugroho
    Notosusanto    4.periodisasi Ajib  Rosidi
I.   Sastra melayu  lama
II. Sastra Indonesia moderen
     A. Masa kebangkitan
1.    periode ‘20
2.    periode ‘33
3.    periode ‘42
    B.  Masa perkembangan
1.    periode ‘45
2.    periode ‘50    I.  Sastra Nusantara Klasik
    (sastra dari berbagai bahasa  daerah
    di nusantara)
II. Sastra Indonesia moderen
    A. Masa kelahiran (masa
          kebangkitan)
1.    periode awal -1933
2.    periode 1933-1942
3.    periode 1942-1945
    B. Masa perkembangan
1.    periode 1945-1953
2.    periode 1953-1961
3.    periode 1961-sekrang
       Dari ikhtisar 4 macam periodisasi diatas, nyatalah bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang prinsipil antara periodisasi yang satu dengan yang lain. Kesemuanya mulai perkembangannya sastara Indonesia moderen sejak tahu 20-an. Kesemuanya menempatakan tahun ’30, tahun ’45, dan tahun’66 sebagai tonggak-tonggak penting dalam perkembangan sastra. Perbedaanya hanya berkisar  pada masa dan istilah dan masalah peranan tahun 1942 dan tahu 1950 di dalam perkembangan sastra Indonesia
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa,
1.    tidak adanya kesamaan istilah yang diperguakan, istilah-istilah yang biasa dipakai misalnya angkatan, periode dan generasi
2.    Tidak adanya kesamaan pengertian terhadap istialah-istilah tersebut. Tentang apa yang disebut angkatan, banyak perbedan pendapat. Rumusan Pramudia Ananta Tur berbeda dengan rumusan Asrul Sani berbeda pula dengan rumusan Rahcmad Djoko Pradopo, Ajib Rosidi dan sebagainya
3.    tidak adanya kesamaan nama yang dipergunakan untuk menyebut suatu angkatan atau suatu periode. Ada yang memakai angka tahun, ada yang memakai tahun angka badan penerbit, nama majalah, nama buku, dan sebagainya
4.    tidak adanya kesamaan sistem yang dipergunakan. Ada yang menunjukan satu angkatan tahun misalnya angkatan 20 dan ada pula yang menunjukan jangka waktu dari dua angka tahun, misalnya periode tahun ’20 hingga tahun ’30.
B. Saran
Berdasarkan simpulan diatas, maka perlu disarankan hal-hal sebagai berikut:
1.    dalam rangka pembinaan dan pengembanga sejarah sastra perlu terus dikem   bangkan
2.    untuk lebih memperdalam pemahaman terhadap sejarah periodisasi sastra  perlu diadakan penelitian yang lebih mendalam.
DAFTAR PUSTAKA
Pradopo, Raehmat Djoko. 1984. “ Masalah Ankatan dan Penulisan Sejarah Sastra Indonesia”. Dewan Kesenian: Jakarta
Rosidi, Ajib. 1964.  “Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir”. Bahtara: Jakarta
Sarwadi. 2004 “Sejarah Sastra Indonesia Moderen”. Gama Media: Yogyakarta
Udu, Sumiman. 2008. “Sejarah Sastra”. Kendari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s